Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya merupakan salah satu kampus tertua di Jawa Timur maupun secara nasional. Kampus yang dikenal dengan julukan Kampus Merah Putih ini berdiri sejak 1958 melalui instruksi langsung pendiriannya oleh Bung Karno Sang Proklamator Presiden Pertama Republik Indonesia. Sejak pertama kali didirikan, Kampus Merah Putih terus mengembangkan diri menjadi salah satu kampus terbaik tidak hanya di tingkat regional Jawa Timur tapi juga nasional. Di tahun 2023, Untag Surabaya merupakan salah satu kampus yang telah memiliki akreditasi Unggul dari BAN-PT dengan peringkat Perguruan Tinggi secara Nasional di rangking 53 dari 4.484 lebih Perguruan Tinggi. Seiring pertumbuhan tata kelola kampus yang semakin membaik beserta visi kampus yang ingin terus menjadi kampus unggul berbasis nilai dan karakter kebangsaan, maka Untag Surabaya terdorong untuk meningkatkan konstribusinya mencerdaskan anak bangsa melalui pembukaan Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Untag Surabaya. Selain faktor internal, pembukaan Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Untag Surabaya ini dilatarbelakangi oleh belum terpenuhinya kebutuhan Dokter di Republik ini. Dengan jumlah penduduk sebesar 277.432.360 jiwa seharusnya dibutuhkan sebanyak 277.432 dokter umum atau setara dengan 1:1000, namun kenyataanya baru tersedia dokter umum sejumlah 174.751 dokter; berarti terdapat kekurangan jumlah dokter umum sebanyak 102.681 dokter (WHO, 2022).

Melansir data kependudukan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur sebanyak 41,64 juta jiwa pada Desember 2023. Kota Surabaya merupakan wilayah dengan penduduk terbanyak di Provinsi Jawa Timur, yakni 3,01 juta jiwa (7,23%) dari total penduduk. Selain didasarkan data nasional kebutuhan dokter, Untag Surabaya mencermati masih tingginya kebutuhan dokter di Jawa Timur. Saat ini dengan penduduk sebesar 41.062.800 jiwa, jumlah dokter umum baru sekitar 13.166 orang, sehingga masih dibutuhkan 27.897 dokter umum. Dengan jumlah lulusan dari 13 program studi pendidikan dokter di Jawa Timur sebanyak 1.278 dokter umum per tahun maka masih dibutuhkan sekitar 21 tahun untuk memenuhi target tersebut. Oleh karena itu ada hal mendasar sebagai latar belakang pembukaan Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Untag Surabaya.

Dari Data Dinkes Jawa Timur, terdapat 4 (empat) besar penyakit di Jawa Timur di tahun 2022, yaitu Malaria (15.529), TB Paru (41.531), Pneumonia (65.449), dan Kusta (1.890), dengan tren yang sama di tahun 2023 namun disertai peningkatan jumlah pasien. Pneumonia konsisten menjadi penyakit terbanyak di Jawa Timur dalam tiga tahun terakhir dengan tren jumlah pasien yang semakin meningkat sehingga perlu tindak lanjut berupa Kedokteran Pencegahan, yang mencakup tiga tingkat pencegahan, yaitu primer (mencegah penyakit), sekunder (deteksi dini), dan tersier (mengelola efek jangka panjang) penyakit infeksi sistem pernafasan khususnya pneumonia. Masih tingginya penyakit infeksi sistem pernafasan khususnya pneumonia di Jawa Timur membuat Untag Surabaya berniat mendirikan Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter yang bertujuan menghasilkan lulusan dokter yang berkualitas, berintegritas, jujur, menguasai ilmu pengetahuan, dan teknologi kedokteran yang berlandaskan nilai patriotik sebagai anak bangsa yang mengabdi di seluruh wilayah Indonesia serta memiliki keunggulan dalam KEDOKTERAN PENCEGAHAN PADA PENYAKIT INFEKSI SISTEM PERNAFASAN KHUSUSNYA PNEUMONIA. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya berbekal pengalaman mengelola 7 Fakultas dan 32 Program Studi serta memiliki akreditasi Unggul berniat membuka Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter yang bertujuan menghasilkan lulusan dokter umum yang memiliki daya saing yang tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional, yang berlandaskan nilai-nilai patriotisme.

Selain terkait data nasional kebutuhan dokter umum, Untag mencermati masih tingginya kebutuhan dokter umum di Jawa Timur. Saat ini dengan penduduk sebesar 41.062.800 jiwa, jumlah dokter umum sekitar 13.166 orang sehingga masih dibutuhkan 27.897 dokter umum. Dengan jumlah lulusan dari 13 Program Studi Pendidikan Dokter di Jawa Timur sebanyak 1.278 dokter umum per tahun maka masih dibutuhkan sekitar 21 tahun untuk memenuhi target tersebut. Belum lagi ketika mencermati kebutuhan dokter umum untuk wilayah Indonesia Timur seperti Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan. Di Maluku ada kebutuhan dokter umum 1.136 dokter, Maluku Utara 879 dokter, Nusa Tenggara Timur 4.396 dokter, Nusa Tenggara Barat 3.950 dokter, Papua sebanyak 2.580 dokter dan Papua Barat sebanyak 519 dokter. Dari data ini terlihat selain masalah kebutuhan juga masalah pemerataan tenaga dokter umum agar dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan Perguruan Tinggi yang mampu menghasilkan dokter umum berkualitas, berintegritas, jujur, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang berlandaskan nilai-nilai patriotik untuk mengabdi di seluruh wilayah Indonesia. Untag Surabaya berbekal pengalaman mengelola 7 Fakultas dan 33 Program Studi serta memiliki akreditasi Unggul berniat membuka Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter dengan niat menghasilkan dokter umum yang memiliki daya saing tidak hanya tingkat nasional tapi juga internasional berlandaskan nilai-nilai patriotisme.

Di Jawa Timur terdapat beberapa Perguruan Tinggi penyelenggara Program Studi Pendidikan Dokter, namun masih tetap belum mampu mencukupi kebutuhan dokter umum di Jawa Timur. Selain itu juga belum ada Perguruan tinggi yang fokus unggul dalam bidang Pernapasan. Di Jawa Timur seorang dokter umum melayani 3.115 penduduk; masih berada di bawah standar WHO. Selain itu, masih ada “keengganan” sebagian dokter umum untuk membuka praktek atau ditempatkan di wilayah tertentu atau keengganan melayani masyarakat yang mempunyai kebiasaan berbeda. Meskipun pemerintah telah mengalokasikan dana 5% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk kesehatan serta menggalakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) namun luasan wilayah dan persebaran penduduk yang tidak merata menjadi kendala bagi masyarakat di daerah untuk mendapatkan akses kesehatan.

Apabila mengacu pada standar World Health Organization (WHO), perbandingan jumlah dokter umum dan penduduk adalah 1:1000, maka di tahun 2023 terjadi kekurangan jumlah tenaga dokter umum sebanyak 102.681. Angka kekurangan ini apabila diasumsikan dengan jumlah penduduk di tahun 2023 sebesar 277.432.360 jiwa maka akan dibutuhkan sebanyak 277.432 dokter umum; sedangkan ketersediaan dokter umum saat ini hanya sebesar 174.751 dokter (dikutip dari presentasi Kemenkes 2023). Kondisi ini apabila dibandingkan dengan ketersediaan dokter umum di negara ASEAN maka negara kita menduduki posisi ke-3 terendah dengan rasio sebesar 0,63; padahal standar rata-rata rasio dokter umum untuk negara-negara ASEAN adalah 0,87. Kondisi ini mendorong Untag Surabaya meningkatkan partisipasinya menjadi lembaga pendidikan yang menyediakan sumber daya manusia untuk memenuhi kualifikasi tenaga profesional dokter umum yang bersedia mengabdikan kemampuannya tanpa melihat dimana mereka akan ditempatkan dan tanpa melihat kebiasaan dimana tenaga dokter umum tadi akan ditempatkan. Keterlibatan Untag Surabaya diwujudkan secara nyata melalui pendirian Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Untag Surabaya sesuai dengan Rencana Induk Pengembangan (RENIP) 2010-2035 dan Rencana Strategis (Renstra) Untag Surabaya periode tahun 2021–2025.